Untuk informasi seputar review film dan info perfilman, silakan kunjungi RajaSinema

Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara

Sebanyak tujuh aksara telah didigitalisasi dan terdaftar di dalam Unicode. Mereka adalah Jawa, Sunda Kuno, Bugis (lontara), Rejang, Batak, dan Pegon


Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara

Target kita itu inginnya masyarakat Indonesia bisa membuat domain dengan aksara Nusantara, tidak hanya dengan Latin saja
Saya mencoba konversi domain blog saya ‘www.rajalubis.com’ ke aksara Batak melalui fitur transkara di https://merajutindonesia.id/transkara. Hasilnya adalah ᯋ᯲ᯋ᯲ᯋ᯲.ᯒᯐᯞᯮᯅᯪᯘ᯲.ᯡ᯲oᯔ᯲. Apakah kamu melihat aksara Batak tersebut, atau justru kamu melihat kotak-kotak semata?

Jika kamu melihat aksara Batak tersebut seperti berbentuk kotak-kotak, salah satu penyebabnya adalah karena aksara tersebut belum tersedia di perangkat yang kamu gunakan untuk membaca tulisan ini. 

So, baca terus tulisan ini sampai akhir, karena saya akan bagikan bagaimana cara menggunakan aksara tersebut di perangkat digital.

Tapi sebelum ke sana, perlu diketahui juga kalau suatu aksara yang muncul di perangkat digital, tidak ujug-ujug (baca: tiba-tiba). Alias diperlukan dulu kegiatan digitalisasi aksara tersebut yang tentunya membutuhkan proses yang panjang.

Mari kita simak bagaimana proses perjalanan digitalisasi aksara tersebut!

Apa itu digitalisasi aksara Nusantara?

Beberapa contoh aksara Nusantara/instagram/@merajut_indonesia

Sebelum kita membahas persoalan digitalisasi aksara, baiknya kita kenalan dulu dengan Merajut Indonesia

Merajut Indonesia adalah sebuah program untuk mempertahankan nilai-nilai budaya Indonesia di tengah gempuran arus globalisasi dan modernisasi. Program ini diinisiasi oleh Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI).

Nah, salah satu kegiatan Merajut Indonesia itu adalah Digitalisasi Aksara Nusantara. Sebuah kegiatan yang titik fokusnya pada salah satu budaya Indonesia yakni aksara Nusantara. Lebih spesifik lagi, kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan aksara Nusantara di perangkat digital.

Selanjutnya mari kita sebut kegiatan ini dengan istilah Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (atau disingkat MIMDAN).

Dalam bincang santai Instagram Live @merajut_indonesia pada Kamis malam (30 Desember 2021), Ratih Ayu selaku Divisi Pengembangan dan Usaha dan Kerjasama PANDI, mengatakan kalau program MIMDAN sudah dimulai sejak akhir tahun 2020. Artinya sudah setahun proses digitalisasi aksara Nusantara ini berjalan.

Perjalanan proses digitalisasi aksara Nusantara

Roadmap standardisasi aksara Nusantara di perangkat digital/instagram/@merajut_indonesia

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana proses digitalisasi aksara Nusantara ini, dan apakah saat ini sudah bisa digunakan secara umum?

Masih dalam bincang santai yang sama, hadir pula Ilham Nurwansyah selaku Pegiat Aksara Nusantara sekaligus juga konseptor MIMDAN. 

Ilham menjelaskan kegiatan digitalisasi aksara Nusantara ini meliputi berbagai proses. Beberapa di antaranya adalah pengumpulan referensi aksara Nusantara, pembuatan font, standardisasi aksara, dan implementasi aksara dalam berbagai perangkat digital.

Untuk bisa diimplementasikan di berbagai perangkat digital, aksara Nusantara harus terdaftar di dalam Unicode. Kita patut bersyukur karena setidaknya ada enam aksara yang telah didigitalisasi dan terdaftar di dalam Unicode. Keenam aksara itu adalah Jawa, Sunda Kuno, Bugis, Rejang, Batak, dan Pegon.

Tentunya untuk mewujudkan seluruh proses digitalisasi ini, MIMDAN tidak bisa bergerak sendiri. Upaya ini pun mendapat dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah (kementerian terkait), pegiat aksara, dan juga komunitas-komunitas aksara di daerah.  

Sekadar informasi, Unicode adalah suatu standar teknis pengkodean internasional mengenai teks dan simbol dari sistem tulisan di dunia untuk ditampilkan pada perangkat digital.
Sebuah aksara jika ingin didaftarkan ke lembaga internet dunia, Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN), wajib terdaftar di Unicode terlebih dahulu

Tapi, teryata semua itu nggak mudah

Coba sebutkan yang ada di sekitarmu!/instagram/@merajut_indonesia

Meskipun banyak pencapaian-pencapaian yang dilakukan MIMDAN selama setahun ini, tapi prosesnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Ratih Ayu kembali menjelaskan bahwasanya aksara Nusantara khususnya Jawa pernah didaftarkan ke ICANN untuk penggunaan domain. Namun ternyata ditolak. 

Salah satu alasannya adalah aksara Jawa masih masuk kategori Limited Use Script di Unicode. Sederhananya aksara Jawa ini belum dipakai/digunakan sebagai keseharian masyarakat Indonesia.

Lebih lanjut Ilham menambahkan kalau aksara Jawa ini juga penggunaannya masih terbatas pada kegiatan akademik, penelitian, atau kegiatan yang berbasis edukasi dan budaya.

Ilham membandingkannya dengan negara India yang memiliki banyak bahasa daerah dan aksaranya sendiri. Dan aksara tersebut sudah digunakan secara umum oleh masyarakatnya terutama di tempat umum.

Bicara penggunaan aksara ini, ada sesuatu yang sedikit mengganjal di hati saya. Sebentar saya kilas balik dulu ke masa kuliah. Saya mendapat kesempatan untuk mengambil program double degree antara dua jurusan: Bahasa Inggris atau Bahasa Jepang. Saat itu, saya memilih Bahasa Inggris karena saya malas belajar aksara Jepang. 

Soalnya aksara ini bukan sekadar konversi aksara Latin ke aksara yang kita pelajari. Ada tantangan lain ketika kita ingin menggunakan aksara yakni belajar bahasanya itu sendiri.

Pertanyaannya, bagaimana mengubah dan membiasakan masyarakat untuk belajar bahasa dan aksara lokalnya? 

Berbicara bahasa, di lingkungan saya sendiri di Bandung, sudah sangat jarang terdengar masyarakat bertutur bahasa Sunda di tempat umum. Namun pengalaman berbeda saya rasakan ketika saya beberapa bulan kerja di Solo dan Surabaya. Di kedua kota ini, masyarakat masih bertutur dengan bahasa lokal yang membuat saya mau tidak mau harus belajar adaptasi dengan keadaan di sana.

Pun juga di kampung halaman ayah saya di Mandailing Natal. Semua masyarakatnya berbahasa Batak. 

Menurut saya kebiasaan warga lokal yang bertutur dengan bahasa lokalnya adalah modal kuat untuk mereka melanjutkan kebiasaannya ke penggunaan aksara. Namun, bagi masyarakat yang sudah jarang bertutur dengan bahasa lokal, nampaknya perlu upaya pendekatan terlebih dahulu mengenai penggunaan bahasa lokal sebelum ke penggunaan aksara.

Bantu MIMDAN dengan mulai menggunakan aksara Nusantara di perangkat digital

Kalau kamu memerhatikan pembuka tulisan ini, kalimat tersebut adalah tujuan global MIMDAN yang ditekankan oleh Ratih Ayu di akhir acara Instagram live.

Untuk sampai ke tahap sana, aksara Nusantara wajib keluar dari kategori Limited Use Script. Caranya adalah dengan memperbanyak penggunaannya di perangkat digital. 

Saya akan coba bagikan cara menggunakan aksara Nusantara di smartphone Android (tanpa harus install aplikasi tambahan).

1. Masuk ke bagian Settings

2. Pilih General Management/System - Languages & Input 

3. Pilih Keyboard/Virtual Keyboard

4. Pilih GboardLanguages
Langkah akses aksara Nusantara di android (1)/Raja Lubis

5. Umumnya sudah terdapat dua jenis keyboard languages yakni English (QWERTY) dan Indonesian (QWERTY)

6. Pilih Add Keyboard di bagian bawah

7. Ketik di kolom pencairan, misal ‘Sunda’.

8. Pilih yang Sundanese (Aksara Sunda), lalu klik Done.

Langkah akses aksara Nusantara di android (2)/Raja Lubis

Note!
Tahapan akses aksara Nusantara pada masing-masing smartphone android bisa saja berbeda-beda.

Sampai di tahap ini, kita sudah bisa menggunakan aksara Sunda untuk berbagai keperluan semisal mengirim pesan atau pasang status media sosial. Yang perlu dilakukan hanyalah melakukan switch/change keyboard di aplikasi yang akan kita gunakan.

Sebagai contoh kita ingin mengirim pesan melalui WhatsApp. Maka buka aplikasi WhatsApp, lalu perhatikan tanda seperti 🌐(globe) di bagian bawah, dan tahan hingga muncul pilihan keyboard. Lalu pilih Sundanese (Aksara Sunda), sehingga keyboard-nya berubah seperti ini.

Dan aksara Sunda siap digunakan!/Raja Lubis


Terakhir, saya turut serta mendoakan agar MIMDAN sukses dan lancar hingga tercapai target globalnya yakni bisa membuat domain dengan aksara sendiri. 

Karena bagaimanapun juga kita harus bangga dengan kekayaan bangsa sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Referensi:
https://merajutindonesia.id/artikel
https://www.instagram.com/p/CYG-RX8pHKf/

Read Also :
Pecinta Musik dan Film Indonesia yang bercita-cita menjadi Jurnalis atau Entertainer namun malah tersesat di dunia Informatika

22 comments

  1. Pertama, saya baru tau cara switch keyboard jadi aksara hanacaraka dan kawan-kawannya kayak gini..

    Kedua, saya juga baru tau bahwa aksara-aksara tradisional Indonesia udah dikenal dalam sistem Unicode.

    Ketiga, saya baru tau ada aksara tradisional bernama aksara Rejang.

    Awesome!
    1. Keempat, alhamdulillah sekarang sudah tahu ya mbak Vick.
  2. wow, saya baru tau dech adanya bagaimana sebuah bahasa lokal dikonversikan ke aksara . Mengenal lebih dalam tentang aksara tradisional melalui Unicode. Bravo untuk bisa terus melestarikan aksasara dalam sebuah program yang canggih
    1. Salut untuk Merajut Indonesia.
  3. Waduh kalo postingan diganti pake aksara kira-kira visitor bakal lebih banyak nggak ya hehehe. Jujur aku baru tau ada aksara batak, kalo di daerah tempat tinggal sini ada beberapa orang yg masih berbahasa daerah tapi bahasa daerah yg kasar bukan halus gitu
    1. Aku saja yang ada keturunan Batak, baru tahu juga ada aksara Batak, hehe.
  4. aku baru tahu kalau handphone kita bisa di setting dengan bahasa aksara. Biasanya bahasa aksara aku temui saat pelajaran sejarah.

    Keren emang, penasaran juga, auto cek settingan hp.
    1. Selamat mencoba!
  5. Belajar aksara daerah terus terang, bukan hal yg gampang buat saya, meski juga bukan hal yg sulit. Intinya, memang harus sering dipakai biar gak lupa, seperti juga belajar bahasa. Sekarang, saya cuma ingat tulisan Arab. Klo aksara Jawa dan Jepang sudah lupa semua qiqiqii...
    1. Ya makanya saya pas kuliah lebih memilih bahasa Inggris daripada bahasa Jepang.

      Kalau Arab teringat karena sering dipakai sih ya dalam keseharian.
  6. iya ya, yang muncul kotak-kotak kalau dibuka, karena memang aksara ini belum terinstall di perangkat. Setuju sama gagasannya, udah seharusnya aksara lokal juga dipindahkan ke dunia digital, sehingga masyarakat bisa menggunakan dan tetap lestari
    1. Sepakat lagi. Semoga lancar terus proses MIMDAN ini.
  7. Setuju banget, keluarga muda suku Sunda seperti malu memakai bahasa Ibunya
    Contoh nih ya, anggota komunitas yang selalu berbahasa Sunda dengan ibunya, sewaktu dia punya balita, dia berkomunikasi dengan anaknya dalam bahasa Indonesia, dengan alasan agar tidak kesulitan di bangku sekolah
    Lha dia kan dulu juga fine aja berbahasa Sunda di rumah bahasa Indonesia di sekolah
    1. Nice insight Bu.
  8. Aksara Bali bagi anak-anak muda Bali juga seakan asing banget. Semua sudah mulai berjarak.. semoga dengan adanya digitalisais digital ini, aksara lokal bisa dilestarikan dan dipelajari oleh para generasi muda, termasuk saya.
    1. Aamiin. Semoga!
  9. Bukan hal yang mudah untuk dapat terbiasa dengan aksara tersebut, tetapi kalau tidak dibiasakan mau kapan lagi mempelajarinya kan..
    Dengan begitu bisa membantu agar tetap terjaga
    1. Yess, butuh dibiasakan memang.
  10. saya melihat ada kotak-kotak ya mas, menurut saya ini sangat luar biasa ide dan gagasan nya. Dalam menjaga kelestarian aksara lokal memang harus merambah didunia digital.
    1. Pakai laptop ya Pak? Dicoba menggunakan smartphone pak.
  11. Keren PANDI yang menginisasi MIMDAN. Sepertinya seru kalau chating sama temen-temen pakai aksara jawa. Mungkin sudah pada lupa, termasuk saya. Duh.

    Makasih infonya ya, Kak. Tadi saya sudah langsung coba
    1. Sama-sama.

      Wah mantap sudah mencoba.
Terima kasih sudah berkunjung ke RajaLubis. Tinggalkan jejak dengan mengisi kolom komentar yang ada. Kami tidak memoderasi kolom komentar, jadi silakan re-cek kembali sebelum berkomentar. Hindari komentar dengan memberikan link hidup, sapaan yang salah, dan atau kata-kata kasar.