Menjelajahi Kebun Indonesia Berdaya Subang: Contoh Wakaf Produktif Dompet Dhuafa


Dua alarm yang kupasang saling bersahutan membangunkanku pagi itu. Dalam keadaan yang masih terkantuk, kulihat jam tangan yang tergeletak di meja menunjukkan pukul empat pagi lebih lima belas menit. "Ah..kenapa aku bangun sepagi ini".

Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi, dan bersiap untuk melaksanakan shalat subuh. Dinginnya air seketika melancarkan ingatanku akan kegiatan yang akan aku lakukan pagi itu. Sebuah pagi pada 17 Oktober 2019 yang membuatku terus terjaga, padahal biasanya setelah subuh, aku tertidur lagi.

[06:20:26] Meeting Point di Dompet Dhufa Jawa Barat

Blogger Bandung berfoto di depan kantor Dompet Dhuafa Jawa Barat sebelum berangkat/DD
Aku dan teman-teman blogger Bandung lainnya akan menghadiri kegiatan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa. Pukul setengah tujuh pagi adalah waktu yang disepakati untuk kumpul sama-sama di Dompet Dhuafa Jawa Barat yang beralamat di Jalan Martanegara No. 22 Bandung.

Sepuluh menit sebelum waktu yang disepakati aku sudah tiba di lokasi. Kulihat baru beberapa saja blogger yang hadir dari sekitar tiga puluh orang yang diundang. Beberapa di antaranya tentu wajah lama yang seringkali ketemu di acara-acara blogger atau sekadar hangout bareng.

Aku pun masuk dan bergabung bersama mereka. Petugas pun menyambut kami dengan baik seraya memberikan makanan untuk sarapan.

[07:30:34] Perjalanan Menuju Subang

Blogger di bis 2/Ida Tahmidah

Alasan kenapa pagi menjadi waktu yang dipilih, tiada lain dan tiada bukan karena acara akan dilaksanakan di luar kota, tepatnya kota Subang. Pukul setengah delapan kami berangkat dengan dua kendaraan. Jika menurut google map perjalanan ini akan ditempuh selama satu jam empat puluh empat menit. Tapi menurut rekanku yang tahun lalu pernah ke tempat tersebut, perjalanan akan menghabiskan waktu lebih dari dua jam.

Baiklah, tak peduli berapa lama yang akan dihabiskan, bagiku menikmati detik demi detik waktu, adalah bentuk syukur terhadap Tuhan.

[09:55:05] Tiba di Kebun Indonesia Berdaya Subang

Ingin hati foto sendiri, tapi apa daya semua blogger hobi foto/Dedew

Selepas tertidur dan terjaga secara bergantian dalam perjalanan, aku pun tiba di Subang. Sedikit kutolehkan pandangan ke arah kiri kaca mobil, kulihat tulisan 'Kawasan Terpadu Kebun Indonesia Berdaya'. Mobil pun perlahan masuk dan menyusuri jalan yang hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan saja.

Dan tidak sampai satu kilometer, kami pun tiba di suatu tempat yang dipenuhi dengan pepohonan. Begitu keluar mobil, mentari sedang hangat-hangatnya menyemburkan sinarnya. Aku pun bergegas menuju saung dengan setengah berlari. Begitu sampai di saung, tuan rumah mempersilakan kami semua untuk menyantap makanan dan minuman yang sudah disediakan.

Pertama aku ambil gelas dan mengambil apa yang tersaji dalam teko. Aku nggak pernah berpikir apa yang ada di teko tersebut, yang aku pikir tenggorokanku harus diisi untuk mengimbangi panasnya mentari pagi. Ah....rupanya jus nanas manis. Sangat nikmat sekali rasanya.

Selepas jus nanas, makanan khas rebusan-rebusan seperti kacang, ubi, dan pisang sudah pasrah berada di atas nampan. Seakan menunggu siapa manusia yang beruntung menyantapnya. Tapi yang paling menarik perhatian adalah sate nanas yang begitu menggoda. Humm..yummy!

[10:10:10] Dompet Dhuafa: Blogger Meet Up!

Selepas menikmati welcome drink and snack yang khas, acara inti pun dimulai. Acara yang diberi nama Dompet Dhuafa: Blogger Meet Up! ini dimulai dengan sesi talkshow. MC pun membuka acara dan memperkenalkan dua narasumber dari Dompet Dhuafa. Adalah Mr. Boby P. Manulang selaku General Manager Wakaf Dompet Dhuafa dan Mr. Kamaludin selaku Manajer Program Ekonomi Dompet Dhuafa

[10:15:51] Apa Itu Wake Up! Wakaf?

Boby P. Manulang (tengah) dan Kamaludin (kanan) ditemani Pak Eman (kiri) warga setempat yang bekerja sebagai petani di kebun Indonesia Berdaya/Raja Lubis

Boby P. Manulang memulai talkshow-nya dengan penjelasan tentang wakaf dan disinergikan dengan program wakaf terbaru dari Dompet Dhuafa.

Menurut Boby pemahaman sebagian masyarakat mengenai wakaf masihlah seputar 3M yaitu Masjid, Makam, dan Madrasah (sekolah). Dari pemahaman inilah muncul juga tiga mindset yang berkembang tentang wakaf itu sendiri. Pertama, wakaf identik dengan ibadah untuk orang kaya. Kedua, wakaf adalah ibadah yang dilakukan dalam nominal yang besar. Dan ketiga, wakaf bukan ibadah yang harus disegerakan.

Pemahaman seperti itu membuat sirkulasi wakaf di Indonesia kurang berkembang. Padahal di negara lain seperti Turki, wakaf sudah menjadi salah satu pondasi ekonomi masyarakat. Untuk mengubah mindset seperti ini dan memberikan nilai manfaat lebih pada wakaf, Dompet Dhuafa meluncurkan program yang diberi nama Wake Up! Wakaf.

Program Wake Up! Wakaf yang diluncurkan pada tahun 2019 ini ditujukan untuk anak muda zaman sekarang yang kian melek investasi dan peduli isu-isu kemanusiaan.

Lalu strategi apa agar anak muda mau berwakaf?

[10:33:29] Mengenal Wakaf Produktif

Suasana saat talkshow. Beberapa blogger mencatat bahasan yang menarik, dan beberapa yang lain masih berusaha mencari sinyal/Raja Lubis

Dari pemahaman masyarakat seputar wakaf, maka harus dilakukan inovasi terhadap objek wakaf itu sendiri. Menambahkan penjelasan Boby, Kamaludin mengatakan bahwa objek wakaf haruslah produktif dan menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Ada rasa bahagia tersendiri bagi wakif (sebutan untuk orang yang berwakaf) jika wakafnya terasa langsung bermanfaat bagi masyarakat.

Coba kita renungkan testimoni Ibu Nurkiaya (60) penerima manfaat operasi katarak Rumah Sakit Achmad Wardi Dompet Dhuafa, berikut ini:

"Berkat dokter mata rumah sakit wakaf Dompet Dhuafa, Alhamdulillah operasi mata saya lancar. Dan sekarang saya sudah bisa melihat dengan jelas"

Bagaimana rasanya? Bukankah manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain?

[10:43:56] Empat Sektor Wakaf Produktif Dompet Dhuafa

Empat Pilar Dompet Dhuafa/dompetdhuafa.org

Ibu Nurkiaya adalah contoh penerima manfaat wakaf produktif Dompet Dhuafa di bidang kesehatan. Selain di bidang kesehatan, Dompet Dhuafa juga bergerak di tiga sektor lainnya yakni ekonomi, pendidikan, dan sosial.

Salah satu contoh wakaf produktif di bidang pendidikan adalah Vocational Training. Sebuah program yang memberikan pelatihan keterampilan kepada pemuda usia produktif. Beberapa pelatihan yang pernah dilakukan adalah pelatihan Pijat Refleksi, pelatihan Menjahit, dan pelatihan Digital Marketing.

Sementara di bidang sosial, Dompet Dhuafa melakukan aksi kemanusiaan seperti bantuan langsung kepada penerima zakat, santunan kepada anak yatim, atau event-event kemanusiaan lainnya baik yang diselenggarakan secara mandiri oleh Dompet Dhuafa atau pun yang bersinergi dengan komunitas.

Contoh lain di bidang ekonomi adalah Kebun Indonesia Berdaya. Di kebun inilah ditanami tanaman yang berdaya ekonomi. Dan untuk pengelolaannya melibatkan masyarakat sekitar mulai dari petani hingga pengolahan produknya.

[11:13:15] Jelajah Kebun Indonesia Berdaya Subang Sebagai Contoh Wakaf Produktif Dompet Dhuafa

Meski cuaca sangat panas, tidak menyurutkan semangat teman-teman blogger untuk belajar agrowisata nanas/Raja Lubis

Acara talkshow telah selesai. Dan dari saung saatnya kami menjelajahi Kebun Indonesia Berdaya Subang. Cuaca sangat terik sekali namun tidak menyurutkan langkah kami untuk melihat-lihat bagaimana aset wakaf produktif ini dikelola.

Dipandu oleh salah satu pengelola, kami memulai perjalanan dari depan kebun yang bertuliskan 'Indonesia Berdaya'. Sayangnya saat itu suasana sedang musim kemarau, jadi kami tidak banyak

Kami pun terus berjalan menyusuri kebun mengikuti langkah sang pemandu sembari mendengarkan penjelasannya dengan seksama.

[11:29:31] Ada Juga Sentra Ternak Subang (Kandang Penggemukan)

Ada sekitar 300 kambing di sini/Raja Lubis

Di kebun yang luasnya sekitar 10 hektar itu, terdapat pula sentra ternak. Ada banyak kambing yang diternakkan di sini. Terlihat sekali kambing-kambing di sini gemuk dan sehat. Tak heran jika banyak pembeli yang memesan kambing-kambing di sini, khususnya untuk ibadah Qurban.

[11:41:01] Bisa Berwakaf Hanya Dengan 10.000 Rupiah?

donasi.tabungwakaf.com

Selepas jelajah kebun Indonesia Berdaya dan Sentra Ternak, kami pun kembali ke saung. Ada rasa di hati ingin ikut berwakaf di kebun Indonesia Berdaya. Tapi menurut penjelasan Dompet Dhuafa, untuk membebaskan lahan 1000 meter persegi di kebun Indonesia Berdaya butuh uang sekitar 125 juta rupiah. Yah berarti benar mindset yang mengatakan bahwa wakaf hanya untuk nominal yang besar.

Eitts tapi tenang dulu. Di sela-sela makan siang nasi liweut lengkap dengan pepes ikan asin dan lalapan, Kamaludin menjelaskan bahwa kita bisa berwakaf hanya dengan 10.000 rupiah. Kok bisa?

Melalui program Wake Up! Wakaf itulah Dompet Dhuafa memudahkan kita untuk berwakaf produktif. Caranya pun sangat mudah sekali. Cukup klik link https://donasi.tabungwakaf.com/ lalu pilih program donasi yang sedang berjalan di mana kita ingin berwakaf. Mudah dan murah bukan?

[13:30:13] Mengunjungi Lokasi RISIN (Rumah Industri Pengolahan Nanas)

Tampak depan RISIN yang akan mulai beroperasi awal 2020/Zia

Selain kebun dan sentra ternak, Dompet Dhuafa juga mengembangkan Rumah Industri Pengolahan Nanas yang disingkat dengan istilah RISIN. Tentunya Risin ini bagian dari satu rangkaian proses di Indonesia Berdaya.

Kami pun diajak mengunjungi Risin selepas makan siang dan shalat dzuhur. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kebun Indonesia Berdaya dan hanya memakan waktu tempuh sekitar sepuluh menit saja.

Terletak di pinggiran jalan pemukiman penduduk, Risin yang didominasi dengan warna hijau senada dengan corak Dompet Dhuafa ini baru akan difungsikan awal tahun 2020. Jadinya memang belum ada aktivitas produksi dan pengolahan yang bisa kami dokumentasikan.

Namun meski belum beroperasi, sang pemandu membawa kami berkeliling area Risin sembari menjelaskan blueprint-nya. Selain untuk pengolahan nanas, rupanya Risin ini juga akan digunakan sebagai head office (baca: kantor pusat) dari Indonesia Berdaya. Diakui sang pemandu, keberadaan Risin ini sudah ditunggu oleh masyarakat sekitar. Masyarakat berharap dengan adanya Risin dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih banyak lagi.

Aku ikut mendoakan, semoga Risin dapat beroperasi dan optimal dalam pengelolaannya.

[14:04:41] Pulang dengan Hati Bahagia, Nanas Adalah Bonus

Ulu, salah seorang blogger yang begitu terpesona melihat nanas dalam kegersangan siang/Aswi

Di sela-sela talkhow, Boby dan Kamaludin sempat mengingatkan kami tentang hadits yang berbicara tentang amalan. Ada tiga amalan yang pahalanya tidak akan terputus meski manusia tersebut sudah meninggalkan dunia yang penuh tipu daya ini.

Pertama doa anak soleh yang mendoakan orang tuanya. Kedua, ilmu yang bermanfaat. Dan yang terakhir adalah Shadaqah Jariyyah (yang terus menerus manfaatnya). Keberadaan kebun Indonesia Berdaya inilah salah satu contoh wakaf produktif yang bisa disebut kategori Shadaqah Jariyyah.

Ya, kunjungan ke kebun Indonesia Berdaya pada hari itu, bukan sekadar jalan-jalan biasa. Kegiatan kali ini sama seperti mengisi rohani yang setiap saat perlu diingatkan untuk berbuat kebaikan. Dan aku percaya sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan di dunia akan menuai pahala di akhirat nanti.

Terima kasih Dompet Dhuafa sudah memberikan aku kesempatan menjelajahi kebun penuh makna ini. Kalau pun akhirnya aku pulang dengan membawa buah nanas, itu adalah bonus lain.
Mengabadikan momen sebelum perjalanan pulang ke Bandung/DD



Tentang Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah lembaga nirlaba milik masyarakat, berdiri sejak tahun 1993, yang berkhidmat mengangkat harkat sosial masyarakat dhuafa dengan mendayagunakan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) serta dana sosial lainnya baik dari individu, kelompok, maupun perusahaan.

Saat ini Dompet Dhuafa telah memiliki jaringan pelayanan di 21 provinsi di Indonesia dan 5 di mancanegara (Hongkong, Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan Korea Selatan). Seluruh kegiatan terlaksana dengan dukungan dari lebih 100.000 donatur loyal yang secara ekonomi mapan, profesional, dan terpelajar.

Penghargaan yang pernah diraih Dompet Dhuafa adalah Lembaga Amil Zakat (LAZ) nomor 1 pilihan masyarakat versi majalah SWA pada 2015. Dan pada tahun 2016 mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay Awards, penghargaan internasional level Asia Pasifik sebagai apresiasi kepada seseorang atau komunitas besar dalam hal pelayanan masyarakat dan pengentasan kemiskinan.








No comments

Powered by Blogger.