Untuk informasi seputar review film dan info perfilman, silakan kunjungi RajaSinema

Handphone yang Saya Gunakan dari Masa ke Masa dan Cerita Seru di Baliknya

Dari Oppo, Nokia, hingga Samsung, berikut handphone android yang pernah saya gunakan dan menemani aktivitas keseharian saya

Semakin hari, handphone bukan lagi sebatas alat komunikasi tapi juga merupakan bagian dari gaya hidup.

Sekarang apa-apa bisa dilakukan melalui handphone. Kasarnya, saya bakal lebih panik ketinggalan handphone daripada ketinggalan dompet. Betul nggak?

Dari sisi fitur pun, kebutuhan semakin meningkat. Misal dulu cukup menggunakan handphone dengan RAM 2 GB, sekarang minimal harus 8 GB. Bahkan untuk konten kreator aktif, paling minimal 16 GB agar aktivitas bisa berjalan dengan lancar.

Nah, gara-gara itu jadi kepikiran ngebuat daftar handphone yang pernah saya gunakan dari tahun ke tahun. Barangkali ada yang sama, yuk kepoin!

1. Samsung Galaxy Wonder (Juli 2012 - Desember 2014)

Penampakan Samsung Galaxy W (doc. Jagad Review)

Barangkali ini android pertama yang saya punya. Waktu itu milih Samsung Galaxy W atas rekomendasi teman, dengan bujet gaji saya satu bulan.

Jadi gaji satu bulan waktu kerja di perbankan, habis buat beli handphone ini. Ya, ada sisalah dikit buat makan sehari-hari.

Pemakaian hape ini hanya bertahan 2 tahun 5 bulan. Selama pemakaian sudah 3 kali ganti baterai karena kembung. Zaman dulu masih pakai baterai yang removable.

Terus juga pernah ngalamin hape diikat pakai karet gelang agar hape masih bisa digunakan. Hingga akhirnya pada Desember 2014 hape ini betul-betul sudah tidak bisa digunakan sama sekali. Dan harus direlakan jadi barang rongsok.

2. Oppo R1201 (September 2014 - Desember 2016)

Penampakan Oppo R1201 (doc. Oppo)

Sebelum Samsung Galaxy W saya benar-benar "koid", saya membeli hape lain. Dan kali ini mencoba dari brand Oppo varian R1201. Kalau nggak salah ingat, saya beli di harga 2,3 jutaan.

Alasannya, karena katanya kamera Oppo itu bagus buat selfie. Pori-pori bisa langsung hilang tanpa harus edit di aplikasi lain dulu. Ya, sudahlah ya. Beli saja hape ini.

Waktu itu memang lagi doyan selfie, dan ada lombanya lho. Pernah juga saya menang lomba selfie berhadiah uang tunai. Alhamdulillah sekali bukan?

Selama pemakaian belum pernah di-service sama sekali, dan tidak ada kerusakan yang berarti.

Hanya saja, pada Desember 2016 saya harus merelakan hape ini hilang saat mengikuti kegiatan gerak jalan di kawasan Pajajaran, Kota Bandung.

3. ASUS Zenfone Selfie 3/16 (Juli 2016 - November 2018)

Penampakan ASUS Zenfone Selfie (doc. Youtube/Putu Reza)

Namanya sering digunakan, lama-lama kekuatan kamera di sebuah hape pasti berkurang juga. Apalagi jika sudah tidak menerima update software lagi dari pabriknya.

Nah, pada Juli 2016 saya beli ASUS Zenfone Selfie di sebuah e-commerce inisial E yang kini sudah tutup. Harganya 2,5 jutaan setelah dipotong promo, ongkir, dan lain sebagainya.

Secara kualitas kamera, hasil selfie dari ASUS Zenfone Selfie ini memang jauh lebih baik dari Oppo R1201 jika saya bandingkan di awal-awal penggunaan.

Selama pemakaian pun tidak ada masalah berarti dan belum pernah di-service. Hanya saja, layarnya mudah sekali pecah. Semakin hari, pecahnya semakin lebar dan sampai pada tahap tidak nyaman untuk digunakan lagi.

4. Honor 9 Lite (November 2018 - Desember 2018)

Bukti pembelian Honor 9 Lite yang umurnya paling pendek (doc. Raja Lubis)

Untuk mengganti ASUS Zenfone Selfie, saya mencoba brand lain yakni Honor 9 Lite. Saya beli pada November 2018 di harga 2 jutaan. Pokoknya saat itu, bujet saya buat beli hape harus berkisar di antara 2-3 jutaan.

Belinya masih online tapi di e-commerce lain inisial S, yang sampai sekarang masih eksis.

Saya cukup senang membeli hape ini, karena uangnya dari honor saya sebagai crew event.

Namun naas, tepat pada 31 Desember 2018 pagi hari, hape ini dicuri orang. Modusnya, ia bertamu ke rumah, hendak bertanya sesuatu.

Namanya di kampung, sikap ramah tamah terhadap tamu walaupun belum dikenal itu sudah mendarah daging. Jadi si pencuri ini diizinkan masuk ke ruang depan. 

Saya nggak nyadar ada tamu ini, karena memang diterima oleh ibu saya. Kecolongannya adalah saya sedang di air, ibu saya ke warung sebentar. Keluar dari air, hape yang saya simpan di atas lemari di kamar, seketika raib.

Yang hilang bukan hanya hape saja, tapi juga dengan dompet dan semua kartu-kartu penting di dalamnya. 

Langsung lapor polisi saat itu juga. Terus ditanya harga hapenya. Pas saya jawab 2 juta, polisinya dengan enteng bilang, "Ah, cuma 2 juta bisa beli lagi".

Jadi mohon maaf, sejak saat itu saya nggak pernah percaya lagi sama polisi. 

Saya belum mengikhlaskan begitu saja. Berusaha menyebarkan informasi di grup lokal Facebook. Responsnya bagus, hingga ada informasi bahwa pelaku masih belum jauh dan belum keluar dari kota.

Saya datang lagi ke kantor polisi, dengan harapan bisa dibantu karena saya sudah membawa informasi yang lebih lengkap dan memudahkan polisi dalam melakukan pengejaran pelaku.

Hasilnya apa? Saya dan ibu saya dibiarkan menunggu hampir 2 jam lamanya, karena si polisinya ternyata sedang massage di dalam ruangan. 

Ya sudah daripada capek fisik dan juga capek hati, saya memilih tidak berurusan lagi dengan polisi. Energi saya alihkan untuk mengurus surat kehilangan (terpaksa), dan juga blokir rekening dan memulihkan kartu SIM.

Umur hapenya kurang dari dua bulan, tapi ceritanya paling panjang ya. Yuk, move ke hape berikutnya!

5. Nokia 5.1 Plus (Januari 2019 - Desember 2025)

Kondisi Nokia 5.1 Plus terkini yang siap dikirim ke pengepul (doc. Raja Lubis)

Baru sadar ternyata saya senang gonta-ganti merk hape. Bukan fanatik terhadap satu merk tertentu.

Untuk mengganti hape Honor yang dicuri orang itu, saya membeli Nokia 5.1 Plus. Beli di salah satu pusat elektronik terbesar di Bandung dengan cara dicicil.

Ya maaf, lagi nggak ada uang jadi harus nyicil. Nyicilnya pun nggak ke toko, tapi ke teman yang kartu kreditnya rela dipinjamkan.

Jadi saya beli hape tersebut menggunakan kartu kredit teman saya dengan skema cicilan 6 bulan. Setiap bulannya saya transfer ke rekening dia. 

Beruntung masih memiliki teman yang baik dan bisa percaya. Terima kasih ya temanku.

Saya memilih Nokia karena menawarkan sistem Android One. Orang-orang bilang android murni. Jadi, nggak ada aplikasi bawaan sistem yang suka banyak makan storage.

Selain itu, saya juga suka dengan build quality-nya. Terasa kokoh dan nyaman digenggam.

Selama pemakaian, yang paling mengganggu adalah port konektor charger yang sering longgar. Oblak istilahnya. Dan setelah saya googling, penyakit ini dirasakan oleh kebanyakan pengguna Nokia 5.1 Plus maupun seri di atasnya 6.1 Plus.

Sudah 3 kali service port konektor, dengan service pertama kali pada April 2020. Artinya mulai benar-benar longgar dan tidak bisa di-charger setelah pemakaian kurang lebih 15 bulan.

Selain oblak, nggak ada penyakit lain yang berarti. Masih bisa digunakan untuk daily use. Hingga pada akhir tahun lalu, harus menyerah karena mati total.

Sebetulnya, sebelum mati total, terdapat masalah tombol power yang menjorok ke dalam sehingga nggak bisa ditekan. Hapenya masih bisa di-charger dan penggunaan pun masih aman.

Tapi setelah dibawa ke tempat service, dengan niat untuk diperbaiki tombol power-nya, petugasnya bilang nggak bisa di-service katanya mesinnya dah rusak. Entahlah maksudnya apa.

Begitu sampai di rumah, saya coba charger masih aman. Tapi karena tombol power-nya nggak bisa dipencet, ya nggak bisa hidup hapenya. Dan terpaksa mati total sampai sekarang.   

6. Samsung Galaxy A32 4G (Juli 2021 - sekarang)

Bagian belakang Samsung A32 4G (doc. YouTube/Gadgetin)

Pemakaian Nokia 5.1 Plus sejak beli hingga betul-betul tidak bisa digunakan adalah selama 6 tahun 11 bulan. Hampir 7 tahun.

Boleh jadi bisa awet lebih lama ketimbang hape lainnya, karena sejak Juli 2021 saya menggunakan hape lain yakni Samsung Galaxy A32, dan menjadikan Nokia 5.1 Plus ini sebagai hape kedua.

Tugas Nokia sebagai hape kedua nggak terlalu berat. Hanya digunakan untuk kepentingan usaha dan jualan saja.

Nah, sekarang rekor pemakaian mungkin saja bisa dipatahkan oleh Samsung Galaxy A32 yang sampai sekarang masih bisa digunakan.

Segala konten foto atau video di blog dan media sosial saya, yang saya posting dari Juli 2021 hingga kini, bisa dibilang 99,99% adalah hasil bidikan Samsung A32.

Sampai saat ini, tepat 5 tahun, belum pernah di-service. Belum ada juga kerusakan yang berarti. Tombol dan port semua masih aman dan nyaman untuk digunakan.

Kepikiran pengin ganti. Tapi in this economy, selama masih bisa digunakan, gunakan terus saja sampai betul-betul rusak.

Kalau pengin ganti cuma mengikuti perkembangan teknologi, nggak akan ada habisnya. Seperti varian A series ini sudah sampai di seri A37 5G dengan Android 16, sementara Galaxy A32 saya mentok di Android 13. 

Di luar yang saya sebutkan di atas, saya pernah pakai BB Storm 2 sekitar tahun 2015. Tapi saya nggak beli baru, cuma nolong teman saja yang jual murah karena lagi butuh duit katanya. Tiga bulan kemudian hapenya rusak dan masuk loak.

Terus pernah juga pakai Samsung A50 hadiah juara pertama "Movie Review Challenge" dari salah satu aplikasi ulasan film. Sayangnya, selang beberapa bulan LCD-nya bermasalah. Ada seperti cairan biru yang menutupi layar, dari setitik hingga sepenuhnya.


Nah, segitu saja dulu cerita tentang handphone yang saya gunakan dari tahun ke tahun. Adakah yang sama? Atau kamu punya merk dan tipe lain? Berbagi di komentar ya!  

 

Read Also :
Pecinta Musik dan Film Indonesia yang bercita-cita menjadi Jurnalis atau Entertainer namun malah tersesat di dunia Informatika

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke RajaLubis. Tinggalkan jejak dengan mengisi kolom komentar yang ada. Kami tidak memoderasi kolom komentar, jadi silakan re-cek kembali sebelum berkomentar. Hindari komentar dengan memberikan link hidup, sapaan yang salah, dan atau kata-kata kasar.