Apakah Hanya Ojek Online (Ojol) yang Terkena Dampak Covid-19?

Sebelum viral tentang tantangan (diduga) oknum ojek online alias ojol yang akan melakukan aksi anarkis, saya sudah mulai jengah ketika pindah channel televisi, lebih banyak yang membahas ojol. Seolah-olah ojol inilah yang paling menderita akibat mewabahnya Corona Virus Desease 2019 disingkat Covid-19 ini.

Apakah memang demikian?

Well, saya nggak akan bicara dulu tentang orang lain, tapi tentang diri saya sendiri. Saya bekerja sebagai content writer di salah satu media online. Ya, itu pendapatan tetap saya. Gajinya bulanan. Bukan media besar, tapi ya saya bersyukur masih memiliki pendapatan tetap.

Beberapa waktu terakhir, manajemen memutuskan untuk mengistirahatkan beberapa cabang medianya, termasuk di dalamnya media tempat saya berkarya. Kenapa nggak WFH (baca: kerja dari rumah) saja?

Media saya adalah tentang film dan entertainment. Saya sendiri lebih sering menulis review film yang sedang tayang. Maka saat rumah produksi secara bertahap menarik film-film mereka dari bioskop, lalu bioskop pun menyerah dan akhirnya tutup, kerjaan saya pun demikian. Saya nggak bisa menulis lagi. Dan tentu saya terima dengan lapang dada.

Di luar menulis, saya biasa menangani event. Setidaknya ada empat event yang akan dikerjakan sepanjang 2020, sebelum pandemi Corona ini melanda. But, sejak Jokowi mengumumkan gerakan social distancing pada minggu kedua Maret, keputusan untuk menunda event pun tak bisa dihindari. Membuat koreksi proposal dan surat pemberitahuan kepada sponsor yang sudah dijajaki, harus dilakukan demi menjaga hubungan baik dengan para pihak.

Habislah saya!

Beruntung saya masih bisa mengandalkan tabungan. Job-job dari blogger atau media sosial, job MC, dan dari hasil jualan online, biasanya saya sisihkan untuk dana darurat. Saya nggak akan panjang lebar ngebahas pengelolaan keuangan di sini, tapi boleh mampir ke postingan saya di sini.

Tapi kru event lainnya mungkin nggak seberuntung saya. Kebanyakan kru event yang biasa bekerja sama dengan saya adalah freelancer alias pekerja lepas. Mereka hanya menggantungkan kebutuhan ekonominya pada event. Ya mulai dari bagian lighting, kru panggung, hingga bagian dekorasi.

Jadi jelas, mereka-mereka yang terlibat di per-event-an, terutama yang pekerja lepas, pun terdampak Covid-19. Apakah sudah ada televisi yang membahasnya?

Itu secuil cerita yang saya alami.

Mari kita simak lagi ke lingkungan yang lebih luas dari kost saya.

Sekitar 100 meter dari kost, ada tukang nasi uduk. Suatu hari saya keluar jam 11-an, saya lihat tukang uduk ini masih ada. Padahal biasanya jam 8 atau paling lambat jam 9, roda dan gerobaknya sudah nggak terlihat. Lalu saya datangi dan ngobrol-ngobrol santai. Si ibu menuturkan, bahwa penjualannya menurun. Dan bahkan sampai jam 11 itu, stoknya masih banyak.

Tentu tuturan si Ibu tukang nasi uduk bukanlah pepesan kosong. Usaha mamah saya Seblak Raja Lubis pun menurun pendapatannya. (tapi buat warga Sukabumi dan sekitarnya yang mau coba seblak, boleh lho, sementara saat ini hanya bisa dibeli lewat Go Food dulu ya)

Apakah ini nggak bisa dikatakan terdampak?

Dari tempat tukang nasi uduk, saya pun nyebrang jalan, lalu ke arah kiri sekitar 20 meter. Di sana ada SD yang tentunya sudah libur. Yang menarik bukanlah SD-nya, tapi sepasang suami istri yang biasa berjualan di depannya. Beberapa hari saat SD ditutup, mereka masih berjualan. Oia, jualannya adalah gorengan. Saya sendiri sering beli gorengan di sini karena enak dan gede (beneran bukan tepung doang), pun harganya masih seribu rupiah.

Tapi rupanya pendapatannya sangat jauh menurun. Ya sangat wajar, karena sepanjang saya amati warungnya, mayoritas pembelinya adalah anak-anak SD tersebut dan ibu-ibu (dan sedikit bapak) yang menunggu anak-anaknya.

Lalu berapa banyak warung kantin sekolah yang terpaksa menutup jualannya karena sekolahnya tutup? Apakah perwakilan mereka pernah masuk televisi sekadar ditanya bagaimana perasaannya?

Saya nggak bermaksud mendiskreditkan ojol, karena faktanya ojol pun sangat membantu dalam keadaan pandemi ini. Saya yang sudah #dikostaja sejak imbau social distancing, lebih banyak menggunakan jasa ojol untuk membeli makanan. Bukan nggak mau beli di warung sekitar, tapi para warung sudah tutup apa yang mau dibeli?

Bisa dibilang hampir setiap hari saya menggunakan ojol untuk makan. Dari lubuk hati yang terdalam saya ucapkan terima kasih, terima kasih, dan terima kasih.

Tapi melihat maraknya berita ojol di televisi, terkadang saya iri, kenapa harus ojol yang selalu dibahas. Semenderitanya kah mereka?

Dalam keadaan seperti ini, semua terdampak. Nggak peduli profesi apa, kaya atau tidak, semua orang punya tingkat terdampaknya sendiri. Bahkan saya sendiri baca di portal berita, artis sekelas Luna Maya saja kebingungan untuk bayar gaji karyawan.

Artinya apa? Banyak yang terdampak.

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah banyak berdoa supaya wabah ini segera berakhir, saling menjaga diri, serta menaati aturan pemerintah. Tapi sesekali menertawakan pernyataannya masih bolehlah untuk menghibur diri.

2 comments:

  1. Iishhh dosa ngetawain... senyumin aja ���� sama aja yaa. Typo seblak mamah 'menurut'. Menurun kali yaa.. Aku juga yakin semua terdampak pasti gak ojol doank yg paling ngenes. Jadi semoga segera ada solusi efektif buat bantuan. Just wait and pray desperately..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin YRA. Jangan berhenti berdoa dan berusaha ya Kak

      Delete

Powered by Blogger.