Monday, 13 April 2020

Apakah Hanya Ojek Online (Ojol) yang Terkena Dampak Covid-19?

Sebelum viral tentang tantangan (diduga) oknum ojek online alias ojol yang akan melakukan aksi anarkis, saya sudah mulai jengah ketika pindah channel televisi, lebih banyak yang membahas ojol. Seolah-olah ojol inilah yang paling menderita akibat mewabahnya Corona Virus Desease 2019 disingkat Covid-19 ini.

Apakah memang demikian?

Well, saya nggak akan bicara dulu tentang orang lain, tapi tentang diri saya sendiri. Saya bekerja sebagai content writer di salah satu media online. Ya, itu pendapatan tetap saya. Gajinya bulanan. Bukan media besar, tapi ya saya bersyukur masih memiliki pendapatan tetap.

Beberapa waktu terakhir, manajemen memutuskan untuk mengistirahatkan beberapa cabang medianya, termasuk di dalamnya media tempat saya berkarya. Kenapa nggak WFH (baca: kerja dari rumah) saja?

Media saya adalah tentang film dan entertainment. Saya sendiri lebih sering menulis review film yang sedang tayang. Maka saat rumah produksi secara bertahap menarik film-film mereka dari bioskop, lalu bioskop pun menyerah dan akhirnya tutup, kerjaan saya pun demikian. Saya nggak bisa menulis lagi. Dan tentu saya terima dengan lapang dada.

Di luar menulis, saya biasa menangani event. Setidaknya ada empat event yang akan dikerjakan sepanjang 2020, sebelum pandemi Corona ini melanda. But, sejak Jokowi mengumumkan gerakan social distancing pada minggu kedua Maret, keputusan untuk menunda event pun tak bisa dihindari. Membuat koreksi proposal dan surat pemberitahuan kepada sponsor yang sudah dijajaki, harus dilakukan demi menjaga hubungan baik dengan para pihak.

Habislah saya!

Beruntung saya masih bisa mengandalkan tabungan. Job-job dari blogger atau media sosial, job MC, dan dari hasil jualan online, biasanya saya sisihkan untuk dana darurat. Saya nggak akan panjang lebar ngebahas pengelolaan keuangan di sini, tapi boleh mampir ke postingan saya di sini.

Tapi kru event lainnya mungkin nggak seberuntung saya. Kebanyakan kru event yang biasa bekerja sama dengan saya adalah freelancer alias pekerja lepas. Mereka hanya menggantungkan kebutuhan ekonominya pada event. Ya mulai dari bagian lighting, kru panggung, hingga bagian dekorasi.

Jadi jelas, mereka-mereka yang terlibat di per-event-an, terutama yang pekerja lepas, pun terdampak Covid-19. Apakah sudah ada televisi yang membahasnya?

Itu secuil cerita yang saya alami.

Mari kita simak lagi ke lingkungan yang lebih luas dari kost saya.

Sekitar 100 meter dari kost, ada tukang nasi uduk. Suatu hari saya keluar jam 11-an, saya lihat tukang uduk ini masih ada. Padahal biasanya jam 8 atau paling lambat jam 9, roda dan gerobaknya sudah nggak terlihat. Lalu saya datangi dan ngobrol-ngobrol santai. Si ibu menuturkan, bahwa penjualannya menurun. Dan bahkan sampai jam 11 itu, stoknya masih banyak.

Tentu tuturan si Ibu tukang nasi uduk bukanlah pepesan kosong. Usaha mamah saya Seblak Raja Lubis pun menurun pendapatannya. (tapi buat warga Sukabumi dan sekitarnya yang mau coba seblak, boleh lho, sementara saat ini hanya bisa dibeli lewat Go Food dulu ya)

Apakah ini nggak bisa dikatakan terdampak?

Dari tempat tukang nasi uduk, saya pun nyebrang jalan, lalu ke arah kiri sekitar 20 meter. Di sana ada SD yang tentunya sudah libur. Yang menarik bukanlah SD-nya, tapi sepasang suami istri yang biasa berjualan di depannya. Beberapa hari saat SD ditutup, mereka masih berjualan. Oia, jualannya adalah gorengan. Saya sendiri sering beli gorengan di sini karena enak dan gede (beneran bukan tepung doang), pun harganya masih seribu rupiah.

Tapi rupanya pendapatannya sangat jauh menurun. Ya sangat wajar, karena sepanjang saya amati warungnya, mayoritas pembelinya adalah anak-anak SD tersebut dan ibu-ibu (dan sedikit bapak) yang menunggu anak-anaknya.

Lalu berapa banyak warung kantin sekolah yang terpaksa menutup jualannya karena sekolahnya tutup? Apakah perwakilan mereka pernah masuk televisi sekadar ditanya bagaimana perasaannya?

Saya nggak bermaksud mendiskreditkan ojol, karena faktanya ojol pun sangat membantu dalam keadaan pandemi ini. Saya yang sudah #dikostaja sejak imbau social distancing, lebih banyak menggunakan jasa ojol untuk membeli makanan. Bukan nggak mau beli di warung sekitar, tapi para warung sudah tutup apa yang mau dibeli?

Bisa dibilang hampir setiap hari saya menggunakan ojol untuk makan. Dari lubuk hati yang terdalam saya ucapkan terima kasih, terima kasih, dan terima kasih.

Tapi melihat maraknya berita ojol di televisi, terkadang saya iri, kenapa harus ojol yang selalu dibahas. Semenderitanya kah mereka?

Dalam keadaan seperti ini, semua terdampak. Nggak peduli profesi apa, kaya atau tidak, semua orang punya tingkat terdampaknya sendiri. Bahkan saya sendiri baca di portal berita, artis sekelas Luna Maya saja kebingungan untuk bayar gaji karyawan.

Artinya apa? Banyak yang terdampak.

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah banyak berdoa supaya wabah ini segera berakhir, saling menjaga diri, serta menaati aturan pemerintah. Tapi sesekali menertawakan pernyataannya masih bolehlah untuk menghibur diri.
Continue reading Apakah Hanya Ojek Online (Ojol) yang Terkena Dampak Covid-19?

Tuesday, 10 March 2020

,

Selain Kamar Mewah, Intip 4 Fasilitas Istimewa Lainnya Dari The Trans Luxury Hotel Bandung

Saat ini bioskop yang terdekat dari tempat tinggal saya adalah XXI TSM (Trans Studio Mall). Jadi setidaknya seminggu sekali (setiap film baru keluar), saya mengunjungi TSM. Selain jarak yang dekat, posisi XXI TSM ini berdekatan dengan mushola sehingga mempermudah ketika mengatur jadwal waktu nonton. Dan kalau sekiranya masih ada waktu yang luang, shalat bisa dilakukan di Masjid Agung Trans Studio Bandung yang bisa menampung hingga 2500 jamaah.

Jadinya Trans Studio Mall dan Masjid Agung yang masuk dalam Kawasan Terpadu Trans Studio ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Eeaaa...

Selain Mall dan Masjid, di Kawasan Terpadu Trans Studio ini juga ada hotelnya dan termasuk hotel terbaik di Bandung. Ya, The Trans Luxury Hotel Bandung.



Saya sendiri pernah menginap di sini, di Premiere Room, kamar paling standar. Waktu itu harganya sekitar 1,5 jutaan. Sekarang kabarnya harganya sekitar 1,8 jutaan. Untungnya nginepnya dibayarin kantor, karena uang segitu cukup buat beli cilok sekarung di Ur Flavor Market yang biasa digelar di pelataran mall TSM.

Lama tidak menginap di sini, ahirnya beberapa hari yang lalu kembali di sini. Tapi bukan sekadar menjajal Premiere Room saja, melainkan seluruh tipe kamar yang ada di The Trans Luxury Hotel Bandung. Ngiler 'kan?

LOBBY & FRONT OFFICE


Sebelum bicara kamar, kita akan bicara mulai dari depan dulu. Ya, kan nggak mungkin masuk kamar tanpa melalui front office. Eh, tapi bagus juga kali ya kalau ada skywalk dari Masjid Agung atau Mall yang mengarah ke kamar masing-masing. (Maafkan sedang halu maksimal)

The Trans Luxury Hotel bisa diakses dari pintu masuk di Jalan Gatot Subroto atau juga dari samping Trans Studio Mall (khusus untuk para pejalan kaki). Begitu memasuki pintu masuk, kita akan disambut oleh petugas keamanan yang sangat ramah. Sembari turun dari mobil bak pemenang kontes pencairan bakat, telinga kita akan dimanjakan oleh gemericik air yang membuat hati yang mungkin sedang panas menjadi teduh.

Lalu kita akan diarahkan untuk masuk pintu pemeriksaan sebelum masuk lobby hotel. Jadi benar-benar aman kalau mau nginep di sini, bahkan penyanyi dangdut terkenal berinisial Ayu Ting Ting juga nginep di sini lho. Kebetulan pas saya ke sana kita berpapasan. Aihhh.



Lupakan Ayu Ting Ting! Mari kita nikmati ornamen Crystal Dragon sepanjang 11 meter yang terbuat dari kristal Swarovski yang terpampang nyata di lobby hotel. Sumpah ini beneran lebih bagus daripada naga Indosiar.

Kalau sudah tercengang-nya, jangan lupa check-in. Menariknya The Trans Luxury Hotel punya tempat check in khusus untuk kamar tertentu. Yang pasti Ayu Ting Ting ke tempat ini, kalau saya check in ke front office yang reguler saja ya.

ROOM


Beres check in, mari kita ke kamar!
The Trans Luxury Hotel punya 280 kamar dengan empat tipe yakni: Premiere, Premiere Club, Celebrity Suites, dan Presidential Suites. Yang membedakan keempat tipe ini tentu fasilitas dan luasnya.

Meski beda di fasilitas, semua kamar di The Trans Luxury Hotel didekorasi dengan mewah, desain interior yang istimewa, menggunakan marmer Serpiente Italia, serta karpet berumbai yang didesain dan dipilih secara khusus.

Semua kamar dan suite semuanya menampilkan TV interaktif LED 46', fasilitas mewah Acqua di Parma, linen mewah yang disesuaikan secara eksklusif dengan kapas Mesir 320-benang, tempat tidur yang dirancang khusus, i-Home (iPod, iPhone, dan stasiun dok iPad), HSIA nirkabel gratis di semua area, tirai dekoratif elektrik, fasilitas set kopi dan teh, mini bar pribadi, fasilitas pribadi, jendela kaca ganda (kedap suara), kabin shower berdiri terpisah, dan bathtub.

Khusus Celebrity Suites dan Presidential Suites, The Trans Luxury Hotel menyediakan layanan pelayan pribadi 24 jam; kemewahan ruangan yang diperluas dari jacuzzi pribadi dan dapur kecil untuk pelayan dengan akses pribadi ke Presidential Suites.

VENUE
Petunjuk, biar nggak nyasar


Jikalau nginep baru di Premiere Room saja, kalau berkegiatan di The Trans Luxury Hotel sudah sering. Ya, maklum sebagai hamba korporasi sering banget lah bikin acara di hotel, dan The Trans Luxury sebagai hotel bintang 5 di Bandung tentu jadi pilihannya.

The Trans Luxury Hotel punya tempat pertemuan yang diberi nama Trans Convention Center (TCC). Bisa dibilang TCC adalah tempat konferensi dan pameran premium terbesar di Bandung. TCC punya kapasitas hingga 4000 tamu sehingga sangat cocok untuk pameran atau konser musik.

Keuntungan lainnya dari TCC adalah posisinya yang berada di lantai 3 dan terhubung dengan Trans Studio Mall.
Ada oleh-oleh yang lucu juga di sini. Ya, boneka ini contohnya


Selain TCC, The Trans Luxury Hotel punya TGB. Tenang! Bukan TGB yang mantan Gubernur itu ya, tapi Trans Grand Ballroom. Yang saya suka dari TGB karena langit-langitnya yang tinggi (cocok untuk acara live tv), ornamen yang mempesona, serta motif bunga di karpetnya. Dan TGB ini juga cocok untuk acara-acara korporasi yang tidak terlalu membutuhkan kapasitas sebesar TCC tapi masih cukup untuk ratusan orang.

Untuk sekala kecil pun, The Trans Luxury Hotel punya banyak ruang pertemuan. Biasanya ini digunakan untuk acara-acara diklat/pelatihan dari berbagai korporasi. Ruang pertemuan ini luasnya sekitar 1000 meter persegi yang tentunya terdiri dari beberapa ruang dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan spesifik si pengguna jasa.

Dan semua ruang pertemuan di The Trans Luxury Hotel diberikan fasilitas proyektor, sound system, mikrofon nirkabel, dan akses wifi kecepatan tinggi. GRATIS!

Setelah meninjau venue, baiknya ke mana ya? Aktivitas atau makan? Kayaknya aktivitas dulu saja ya, biar makan menjadi yang terakhir. Baik!

ACTIVITY
Renang di malam hari, menggugah hati


Menginap di The Trans Luxury Hotel punya keuntungan lebih karena bisa menikmati berbagai aktivitas yang sudah disediakan. Di antaranya ada kolam renang, spa, dan gym. Hemm..bakal bikin kita benar-benar merasakan relaksasi yang sebenarnya.

Kita mulai dari kolam renang.
Sepintas nggak ada yang beda dengan kolam renang pada umumnya, ya sama-sama air. Hehe, tapi nggak semua hotel punya fasilitas kolam renang lho. Dan The Trans Luxury Hotel punya kolam renang seperti di pantai berpasir namun dengan air hangat. Dan untuk anak-anak, kolam renangnya didesain khusus dengan seluncuran yang bakal bikin anak-anak betah bermain.

Kolam renang ini terletak di lantai 3 dekat dengan The Restaurant (terus baca sampai akhir ya untuk penjelasannya), dan juga dilengkapi dengan arena The Kids Club yang menyajikan berbagai petualangan seru bagi anak-anak.

Pengin couple massage, tapi Spa nggak menyediakan pasangannya. Huft


Dari lantai 3, kita menuju lantai 5.

Begitu sampai lantai 5, kita langsung disuguhkan dengan resepsionis yang sangat ramah. Di sini ada spa dan gym. Caranya gampang saja, belok kanan untuk spa, dan belok kiri untuk akses ke gym. Tapi jika ingin ngobrol dan basa-basi dengan resepsionisnya yang cukup lurus saja.

Mari kita belok kanan (Barcelona). Spa yang ditawarkan The Trans Luxury Hotel adalah spa dengan aroma dan nuansa Bali. Semua bahan yang digunakan berasal dari Bali. HIngga terapisnya pun asli dari Bali, dan suasananya pun dibuat Bali banget. Jadi, yang ingin merasakan Balinese Massage, ya nggak perlu jauh-jauh ke Bali, cukup ke The Spa The Trans Luxury Hotel saja ya.

The Spa ini punya 9 ruangan yang terdiri dari 6 single room dan 3 couple room. Bisa massage bareng pasangan juga lho.  Oia, sebelum spa tour, saya dikasih welcome drink Lemon Gras (entah nulisnya gimana, yang pentingnya bacanya Gras). Dan itu sangat menyegarkan setelah berkeliling kamar dan venue.
Tangan saya yang mana ya?


Puas dari spa, mari kita lihat apa yang ditawarkan oleh gym The Trans Luxury Hotel.

Sebagai mantan anak gym (memanfaatkan fasilitas kantor), peralatan gym The Trans Luxury Hotel hampir sama dengan gym berkelas lainnya. Tapi di sini menawarkan program dengan goal tertentu. Misal, program untuk membentuk bodi dengan bentuk tertentu sebelum menikah, di sini bisa. Dan ada garansi jika tujuannya nggak tercapai. Ini langka di dunia per-gym-an.

Nggak kalah menarik, Gym The Trans Luxury Hotel dilengkap juga dengan sauna dan jacuzzi yang luas. Sayangnya, saya hanya melihat-lihat saja belum sempat coba. Tapi kalau mau nyoba, nggak harus nginep dulu sih, karena Gym ini dibuka untuk umum, tentunya dengan membership biar dapat harga lebih terjangkau. Dan membership ini berlaku juga untuk The Spa dan Pool (kolam renang).

Baiklah sekarang saatnya kita makan!

DINING
Coba tebak ada berapa orang yang tergambar di foto di atas!


Mau makan saja, The Trans Luxury Hotel menyajikan berbagai pilihan bersantap. Pertama ada The Lounge yang berada di lobby. Tempat ini khusus untuk pertemuan yang sudah direservasi sebelumnya, tentunya dengan sofa dan bar yang mewah. OK! Karena saya belum reservasi, jadi kita pindah ke tempat selanjutnya.

Kedua ada The 18th Restaurant and Lounge, restoran khusus dengan ruang makan ekslusif dan ruang terbuka. Dari ketinggian 18 lantai, kita bisa melihat view Bandung dengan sempurna. Dan yang perlu dicoba adalah Sky Walk-nya. Ia, lantai kaca bening dengan pemandangan indah di bawahnya berupa mobil-mobil yang terlihat kecil.

Pertama kali saya ke sini, sumpah ngesot. Agak takut ketinggian soalnya saya. Tapi setelah beberapa kali nggak takut sih. Tips, berjalan dengan percaya diri saja, dan jangan melihat ke bawah.

Karena perut sudah lapar, mari kita sudahi bermain-main di Sky Walk, kita menuju The Restaurant di lantai 3 (selantai dengan Pool).
Aduh, itu yang dipotong apa ya?


The Restaurant inilah barangkali restoran regulernya, tempat orang-orang sarapan, makan siang, dan makan malam, jika nggak ingin di dua tempat yang sudah disebutkan tadi.

Makanannya juga berbagai macam yang bakal memuaskan hasrat makan-memakan. Mulai dari nasi putih, nasi goreng, ayam, daging, susi (susanti) eh sushi, bebek, sate, sosis, dan berbagai aneka sajian lainnya.

Ya sudah saya makan dulu ya!

Nah ini penampakan SkyWalk dari ketinggian 18 lantai The Trans Luxury Hotel

Nah, segitu dulu ya ceritanya, kalau penasaran sila kunjungi The Trans Luxury Hotel di Jalan Gatot Subroto No. 289 Bandung. Muaaachhh..


Continue reading Selain Kamar Mewah, Intip 4 Fasilitas Istimewa Lainnya Dari The Trans Luxury Hotel Bandung

Wednesday, 12 February 2020

,

Mengenal SOS Children's Village Indonesia, Organisasi Sosial Bagi Anak yang Kehilangan Pengasuhan Orang Tua



Setiap kali saya pergi ke mall untuk nonton film di bioskop, kerap kali ditemui stand-stand komunitas/organisasi sosial, yang biasanya berada di dekat eskalator. Terkadang jika waktu saya masih luang, rasa penasaran saya selalu muncul dan ingin sekali berbincang santai tentang program mereka.

Seperti kemarin, sehabis saya nonton film Semes7a (baca: Semesta) di XXI Empire Bandung Indah Plaza, tepat di depan XXI, seseorang menghampiri saya meminta waktu untuk berbincang. Karena terburu-buru mau makan, awalnya tidak terlalu saya perhatikan. Namun setelah melihat x-banner-nya, SOS Children's Villages Indonesia, saya pun tertarik. Kenapa?

Salah satu yang membuat saya tertarik karena beberapa hari sebelum ini, tepatnya pada Jumat, 7 Februari 2020 lalu, saya menghadiri salah satu kegiatan SOS Children's Village Indonesia di Hotel Hilton Bandung. Kegiatannya berupa wisuda anak didik SOS Children's Village Indonesia yang telah lulus pendidikan di empat hotel yang bekerjasama, yang salah satunya adalah Hilton Bandung.




Saya baru pertama kali mengenal SOS Chidren's Village Indonesia, dan begitu tertarik ketika Gregor Hadi Nitihardjo, National Director SOS Children’s Villages Indonesia, memperkenalkan sekilas tentang organisasi ini.

Singkatnya, SOS Children's Village Indonesia adalah organisasi sosial non-profit  yang menyediakan pengasuhan alternatif bagi anak-anak yang telah atau beresiko kehilangan pengasuhan orang tua. Saya sendiri suka sedih dan terharu jika melihat anak-anak yang kurang beruntung dalam hal pengasuhan. Seketika membawa saya pada memori ketika saya SMP.

Waktu SMP saya menjadi ketua GTA (Gerakan Teman Asuh) yang kurang lebih fokusnya sama dengan SOS Children's Village Indonesia. GTA adalah organisasi intra sekolah yang bertujuan agar anak-anak yang kurang beruntung dalam hal ekonomi tetap mendapatkan haknya untuk belajar.

Yang menarik dari SOS Children's Village Indonesia adalah penggunaan kalimat 'anak-anak yang telah atau beresiko kehilangan pengasuhan orang tua'. Hal ini juga mengingatkan saya atas wejangan kepala sekolah SMP saya yang meminta menggunakan kalimat 'kurang beruntung dalam hal ekonomi' dibanding kata 'miskin' atau 'kurang mampu'.

Bapak Gregor Hadi Nitihardjo - National Director SOS Children's Villages - (kiri) dan Bapak Kevin Girard - General Manager Hilton Hotel Bandung - (kanan)

Seiring dengan flashback masa remaja, perlahan saya pun larut ketika para wisudawan dipanggil satu - persatu ke atas panggung. Yang pertama dipanggil adalah Susi Susanti dari Flores. Ya, namanya sama dengan atlet kebanggaan Indonesia. Saya yang melihat dari kursi berjarak 50 meter dari panggung ikut terharu kala setiap wisudawan diperlihatkan before dan after-nya.

"Bukan, bukan. Ini bukan untuk menunjukkan fisik/muka mereka yang berubah. Tapi ingin menunjukkan bagaimana pihak hotel begitu serius melakukan pendidikan ini", begitulah ucap MC pertama kali memulai prosesi wisuda.



Kerjasama antara SOS Children's Village Indonesia dengan empat hotel (Hilton Bandung, Courtyard by Marriott, Four Points by Sheraton, dan Sheraton Hotel dan Tower) dijalin berbarengan dengan Youth Career Initiative (YCI), lembaga internasional yang memberikan pendidikan keterampilan kerja bagi anak muda dengan tujuan meningkatkan kapasitas kerja dalam industri pariwisata.

Dan wisuda kali ini merupakan kali keempat. Sebelumnya Program YCI batch I diikuti oleh 6 remaja pada semester pertama 2018, dilanjutkan batch II pada semester keduanya dengan total 14 peserta, dan batch III pada paruh pertama 2019 diikuti 16 peserta.

Sementara untuk batch IV sendiri diikuti oleh 18 anak muda SOS Children’s Villages yang berasal dari Flores, Jakarta, dan Yogyakarta yang dilaksanakan sejak Agustus 2019 hingga Januari 2020.



Para lulusan YCI ini dibekali kemampuan teknis dan non-teknis guna menunjang kehidupannya di masa yang akan datang. Yang paling saya salut adalah bagaimana YCI menumbuhkan kemampuan non-teknis para lulusannya. Mereka sangat percaya diri, berkomunikasi di depan orang banyak, dan itu sangat tidak gampang.

Mereka yang mungkin berpikir tidak memiliki masa depan, melalui program ini mereka adalah anak muda harapan. Beberapa dari mereka ada yang bekerja langsung di hotel tempat pelatihan, tapi ada juga yang melanjutkan pendidikan, atau bekerja di kampung halamannya.



Jika seringkali di media sosial khususnya twitter, banyak yang berkomentar 'Alhamdulillah masih ada orang baik', ketika suatu kejadian positif viral, percayalah kebaikan itu sesungguhnya banyak dan ada di sekeliling kita.

Bukan, bukan karena kebaikan itu tidak ada, tapi tertutup oleh berita-berita yang buruk yang mungkin jumlahnya hanya setetes air di lautan. Dan semoga sedikit tulisan ini pun bisa mengabarkan kebaikan yang mendatangkan manfaat. Aamiin!





















Continue reading Mengenal SOS Children's Village Indonesia, Organisasi Sosial Bagi Anak yang Kehilangan Pengasuhan Orang Tua

Monday, 3 February 2020

,

MIM Royalty Card: Belanja Rp 100.000 dan Bawa Pulang Hadiahnya



Hampir semua mall yang ada di Kota Bandung pernah saya singgahi. Bahkan bukan sekali dua kali saja, tapi sudah seperti rumah kedua bagi saya. Tapi tentunya jika di mall tersebut ada bioskopnya, karena tujuan saya ke mall biasanya untuk nonton film di bioskop.

Salah satu mall tersebut adalah Metro Indah Mall (MIM) yang berjarak sekitar empat kilometer dari kediaman saya. Meskipun jaraknya relatif dekat, tapi MIM bukanlah mall prioritas bagi saya pada awalnya. Namun sejak kehadiran CGV Cinemas, saya terbilang cukup sering ke MIM jika ingin nonton film yang khusus ditayangkan di CGV.

Pertama kali saya mencoba CGV-nya adalah beberapa hari setelah Grand Opening. Dan pernah juga saya membuat konten lomba di CGV MIM. Tempatnya yang berada di atas mall, tepatnya lantai 3, lebih mudah dijangkau jika menaiki lift di sebelah kanan mall (masuk dari pintu utama Information Center).

Berbagai makanan dan minuman tersedia lengkap di Metro Kitchen Lantai 2 MIM

Selain nonton film di CGV, saya ke MIM karena ada merchant Lotteria. Merchant ini seringkali memberi diskonan makanan yang bisa lebih dari setengahnya. Jadi memang saya pernah bela-belain ke MIM cuma karena ingin makan di Lotteria. Tapi sayangnya, kini Lotteria sudah tidak bergabung lagi dengan MIM, dan tempatnya akan digunakan oleh Raacha Restoran yang akan buka pada Februari 2020 ini.

Nonton sudah, makan sudah, maka nggak lengkap kalau mylifestyle nggak dibarengi dengan karaoke. Sebagai founder KRS (Karaoke Road Show), sebuah grup pecinta karaoke di Bandung, saya dan teman-teman KRS menjajal karaoke di MIM. Saat itu, ada Lyrics, karaoke milik artis Lyra Virna. (tapi nampaknya juga sudah tidak bergabung dengan MIM). Namun ada tenant karaoke, Song Coins yang baru soft launching dekat dengan Metro Kitchen

Selain bioskop, tempat makan, dan karaoke yang sudah disebutkan ada banyak tenant lain yang telah bergabung dengan MIM, diantaranya: Fox Harris Lite Hotel, Hypermart, Ace Hardware, Informa, Mr. DIY, TimeZone, KFC, J-Co, Hokben, Justus, Gramedia, Guardian, Opelon, Gabino, Yongki Komaladi, Hellofun, Kopi Kenangan dan masih banyak lagi.

Dengan bergabungnya tenant-tenant besar yang beragam mulai dari makanan, fashion, hiburan, hingga hotel membuat Metro Indah Mall bisa dibilang mall terbesar dan terlengkap di Bandung Timur yang berada di Kawasan Bisnis Metro Indah Mall dengan 330 ruka lainnya.

Keuntungan lainnya, MIM dekat dengan kantor pemerintahan, sekolah, kampus, dan komplek perumahan yang padat.

Melihat potensi pengunjung yang besar dan guna memberikan pelayanan prima bagi para pengunjungnya, MIM meluncurkan program MIM Royalty Card.

Press conference MIM Royalty Card pada Jumat, 31 Januari 2020


Apa itu MIM Royalty Card?

Sederhananya, MIM Royalty Card adalah kartu bagi pengunjung loyal MIM yang memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengikuti program berhadiah seperti Pesta Point, Belanja Berhadiah Langsung, dan Undian Berhadiah.

Caranya pun sangat gampang. Untuk mendaftar MIM Royalty Card, cukup belanja minimal Rp. 100.000,- dan bisa akumulasi dari semua struk asal di hari yang sama.

Saya contohkan ya. Kalau kamu anak sekolah Margahayu yang biasa main ke MIM bersama pacar, kamu bisa nonton di CGV dan makan di Metro Kitchen. Asumsikan tiket nonton Rp.30.000,- dan nyemil Tahu Berintik Rp. 20.000,-. Dengan nonton dan jajan dua orang saja, kamu sudah bisa mencapai akumulasi Rp. 100.000. Nah, daripada struknya terbuang percuma mending daftarkan MIM Royalty Card di Information Center di Lantai GF.

Atau bisa juga seperti saya dan teman-teman kemarin. Kita beli Kopi Kenangan harga Rp. 18.000 - 24.000,- lalu makan di KFC harga mulai dari Rp. 32.000,- Struknya dikumpulkan dan daftarkan atas nama A, lalu besok janjian lagi dan daftarkan atas nama teman yang lain.

Atau lebih simple, bawa keluarga dan sanak saudara, belanja di MIM, pasti angka Rp.100.000.- akan mudah tercapai.

Ada banyak spot menarik yang bisa digunakan untuk berswafoto


Buat kamu yang baru tahu informasi ini, nggak usah khawatir, karena program MIM Royalty Card baru dimulai sejak tanggal 1 Februari 2020 dan akan berakhir pada 31 Desember 2020. Selama periode ini akan dilaksanakan tiga kali pengundian yakni pengundian pertama pada 7 Juni 2020, pengundian kedua pada 27 September 2020, dan yang terakhir pada tanggal 10 Januari 2021.

Dan hadiahnya pun nggak tanggung-tanggung: 10 Voucher Fox Harris Lite Hotel, 10 Voucher Makan di Metro Kitchen, 10 Voucher Belanja, 12 Handphone Oppo A5 2020, 4 unit Motor Yamaha Mio M3, 2 unit Mobil Daihatsu Sigra, dan 1 unit Mobil Nisan All New Livina.

Gimana, tertarik 'kan?

Selamat berbelanja dan mengumpulkan poin di Metro Indah Mall Bandung, kawan!

Continue reading MIM Royalty Card: Belanja Rp 100.000 dan Bawa Pulang Hadiahnya

Monday, 27 January 2020

, ,

Menikmati Delapan Rasa Siliwangi Bolu Kukus, Sumpah Raos Pisan!



Kurang lebih tiga bulan yang lalu, dari negeri yang disebut kota Hujan, sayup-sayup terdengar kehebohan luar biasa. Bahkan kehebohan itu terdengar hingga kota Kembang. Ya, Bogor yang dikenal juga dengan kota seribu angkot, punya kuliner terbaru yakni Siliwangi Bolu Kukus (SBK).

Kehebohan SBK mampu menggemparkan masyarakat Bogor terutama di sekitar empat titik lokasi store SBK. Memulai store pertamanya di Stasiun Bogor, SBK langsung diserbu masyarakat terlebih dibarengi dengan berbagai promo menarik.

Sukses di Stasiun Bogor, SBK melebarkan sayap ke tiga titik strategis lain yakni Jalan Baru, Puncak, dan Baranangsiang. Kini lengkaplah sudah, SBK bisa ditemui dengan mudah oleh masyarakat Bogor dan sekitarnya.

Lalu, bagaimana dengan aku, kamu, dan kalian yang tinggal di Bandung? Sabar! SBK ternyata sudah buka di Bandung. Tapi, mari kita simak dulu sejarah awal mula SBK ini hadir.

Kuliner Berlatarkan Sejarah Pasundan.

Suasana dalam ruangan SBK Store Bandung

SBK yang diproduksi oleh CV. Boga Karya Siliwangi ini memiliki tujuan melestarikan budaya Bumi Pasundan melalui wisata kuliner yang sejalan dengan visi dan misi perusahaan.

Muhammad Faizal Chaniago, selaku Direktur CV. Boga Karya Siliwangi, dalam pembukaan Store Stasiun Bogor mengatakan, “Hari ini kami memperkenalkan kepada masyakat suatu bentuk karya yang mengangkat nilai sejarah dan nilai kearifan lokal, dimana hasil karya tersebut kami beri nama Siliwangi Bolu Kukus (SBK). Itulah mengapa nama ‘Siliwangi’ lebih ditonjolkan pada kemasannya karena inilah nama yang begitu melekat dengan Bumi Pasundan".

Mengapa Siliwangi? Nama Siliwangi berasal dari kata ‘Silih’ dan ‘Wawangi’. Menilik dari sejarahnya, Prabu Dewantaprana Sri Baduga Maharaja yang memerintah Kerajaan Sunda Galuh dianggap sebagai pengganti kakeknya, Niskala Wastu Kancana, yang bergelar Prabu Wangi. Sri Baduga dianggap mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan kakeknya, sehingga beliau pun dikenal sebagai Prabu Siliwangi. ‘Silih Wawangi’ juga menjadi kesatuan dari semboyan Prabu Siliwangi, ‘Silih Asih Silih Asah Silih Asuh Silih Wawangi’.

Maknanya, setiap manusia itu harus saling mengasihi seperti seorang ibu yang memberikan air asi pada bayi yang baru lahir. Saling mengasah agar lebih berdaya guna dalam kehidupan, dan tentu saja saling mengasuh. Kemudian ditutup bahwa manusia itu harus saling memberikan hal yang positif.



Dan dari filosopi itulah, Faizal menyatakan visi misi perusahaannya tercipta. Misinya adalah
  1. Dari Indonesia, oleh Indonesia, dan untuk Indonesia;
  2. Menciptakan produk yang berdaya saing dengan nilai-nilai kearifan lokal Indonesia;
  3. Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dan proses berdasarkan filosofi-filosofi Ketuhanan dan keilmuan serta teknologi;
  4. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menciptakan lingkungan yang sehat.

Semua itu kemudian mengerucut pada budaya sehat, sejahtera, bahagia, kearifan lokal, dan humanis.

Gimana, keren 'kan? Dan bertambah pula pengetahuan kita tentang sejarah Siliwangi.

Launching Store Bandung

Suasana depan SBK Store Bandung, sebelum promo dimulai

Sebagai oleh-oleh Bumi Pasundan, maka tak lengkap rasanya jika SBK hanya ada di kota Bogor. SBK pun melebarkan sayap lebih jauh, dan Bandung menjadi pilihan pertama sekaligus menjadi store kelima yang dimiliki SBK.

Launching SBK Store Bandung dilaksanakan pada Sabtu, 25 Januari 2020. Dan untuk memanjakan para pengunjungnnya SBK beri promo menarik yakni Buy 1 Get 2 Free. Artinya bayar 1 dapat 3 box. Dan harganya hanya Rp. 27.500/box. Itu artinya satu boxnya nggak sampai sepuluh ribu rupiah.

Demi promo inilah, saya rela bangun pagi-pagi. Padahal hari Sabtu biasanya adalah jatahnya cucian dan setrikaan, hehe. Tapi ya sudah, kapan lagi ada promo semenarik ini.



Saya sudah tiba di lokasi SBK Store Bandung yang beralamat di Jalan Moh. Toha No. 145 ini pada pukul delapan pagi. Saya kira saya paling pagi, tapi rupanya sudah ada Dedew dan Adrian di sana, Jadilah saya no. 3 saja.

Sebetulnya promo baru dimulai pada pukul 10.00 hingga 13.00 WIB untuk sesi pertama, dan sesi kedua pada pukul 16.00 - 19.00 WIB. Dan masing-masing sesi hanya dibatasi untuk 500 pengunjung pertama, dan tidak berlaku kelipatan.

Buat saya ini cukup adil karena setiap orang yang mengantre hanya bisa mendapatkan promo satu kali, dan jika ingin membeli lagi maka harus antre ulang.

Pukul sembilan pagi, antrean memang belum panjang. Tapi warga yang lalu lalang di sekitar banyak yang penasaran karena banyak juga karangan bunga ucapan selamat di depan store. Dan lima belas menit setelah itu, warga mulai berdatangan dan mengantre hingga ke luar jalan. Tapi saya salut, karena antrenya bisa sangat tertib mengikuti arahan petugas, dan juga tidak sampai mengganggu lalu lintas.





Delapan Rasa SBK yang Raos Pisan


Sesuai dengan misinya sebagai oleh-oleh Bumi Pasundan, SBK pun mencari varian rasanya yang memang mencirikan khas tanah Pasundan. Saat ini SBK punya delapan varian rasa yang bisa dinikmati. Adalah Alpukat Mentega, Kopi Bogor, Susu Lembang, Brownies Coklat, Ketan Kelapa, Ubi Cilembu, Talas Bogor, dan Stroberi Ciwidey.

Kedelapan rasa itu saya urutkan berdasarkan yang saya suka ya. Saya sudah mencoba semuanya, dan dua favorit saya jatuh pada Alpukat Mentega dan Kopi Bogor. Bahkan konon katanya, rasa Alpukat Mentega ini jadi best seller di SBK. Bisa jadi karena rasa ini jarang diproduksi oleh perusahaan sejenis, sehingga membuat penasaran. Tapi memang rasa itu yang paling raos (baca: enak) menurut saya.



Oleh karena itu, saat promo saya mengambil 2 Alpukat Mentega dan 1 Kopi Bogor. Satu box untuk dihabiskan sendiri, dua box lainnya saya kirim ke rumah untuk dimakan oleh keluarga. Karena menurut Tegar Pranata, Manager SBK, promo Buy 1 Get 2 Free ini dimaksudkan agar banyak warga Bandung yang merasakan kenikmatan SBK, berbagi kebahagiaan dengan teman, kolega, dan keluarganya.

Namun memang promo Buy 1 Get 2 Free ini hanya saat pembukaan store saja. Tapi untuk warga Bandung tidak perlu khawatir karena sampai akhir bulan ini yakni 31 Januari 2020, SBK Store Bandung masih punya promo menarik yakni Buy 2 Get 1 Free. Jadi bayar 2 box tetap bisa membawa pulang 3 box. Untuk syarat dan ketentuan lengkapnya silakan kepo dan follow akun IG @siliwangibolukukus ya.




Continue reading Menikmati Delapan Rasa Siliwangi Bolu Kukus, Sumpah Raos Pisan!