[KALAM-KALAM LANGIT]: MTQ, Sebuah Pelacuran Ayat Suci Al-Quran?

kalam-kalam-langit-2016-teaser-poster

     Sewaktu saya SMP, saya sempat ikut lomba MTQ se Kota Sukabumi, Alhamdulillah waktu itu meraih juara 3. MTQ itu kependekan dari Musabaqah Tilawatil Quran yakni festival membaca Al-quran dengan qira'at. Wah qira’at apalagi itu? Qira'at al-Qur'an adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas perbedaan lafaz wahyu, baik dari segi menulisnya maupun membacanya. Ok. Lupakan saja istilahnya, singkatnya MTQ adalah lomba membaca ayat suci AlQuran atau ummat Islam sering menyebutnya dengan istilah “mengaji”.


     Fenomena MTQ di Indonesia bahkan memiliki festivalnya sendiri hingga tingkat nasional. Kita tentu tahu tokoh H. Muamar Z.A Qari terkenal Indonesia yang juga pemenang MTQ tahun 1981. Namun konflik muncul dibalik MTQ, adanya tudingan-tudingan bahwa MTQ hanya dijadikan ajang untuk mencari keuntungan para penyelenggara lomba melalui pembacaan Al Quran. Apakah ini sebuah pelacuran ayat suci?



Sebuah film religi terbaru yang tayang pada tanggal 14 April lalu, KALAM-KALAM LANGIT, mencoba memotret fenomena tersebut. Adalah Ja’far (Dimas Seto) pemuda pesantren yang sangat jago dalam hal mengaji dan pernah memenangkan lomba MTQ. Namun kemenangan dan keikutsertaannya ditentang oleh ayahnya (Mathias Muchus) yang tidak suka karena menganggap MTQ hanyalah sebagai sarana jual beli ayat-ayat Illahi. Namun, di sisi lain, ibunda (Henidar Amroe) Jafar justru adalah qari'ah terkenal. Di sinilah konflik Jafar dimulai, antara mengikuti keingininan ibunya atau ayahnya.




[caption id="attachment_1553" align="aligncenter" width="169"]P_20160416_142735-1 Raja Lubis (Kiri) - Komandan FFBComm, bersama Dimas Seto pemeran Jafar[/caption]

     Lika-liku konflik Jafar yang ditinggal mati lebih dahulu oleh ibunya, semakin menjadi ketika dirinya diminta oleh pimpinan pesatren mengikuti lomba MTQ. Padahal, setiap tahunnya pesantren tersebut selalu mengirimkan Satori (Ibnu Jamil) sebagai wakilnya. Tokoh antagonis pun dimainkan. Satori digambarkan sebagai orang yang haus juara dan menghalalkan segala cara, pula didukung oleh beberapa ustadz di pesantren tersebut.


     What? Ini pesantren. Penggambaran Faozan Rizal selaku penulis skenario atas kondisi pesantren merefleksikan secara nyata hukum kehidupan. Tidak selalu lingkungan yang dianggap baik juga dipenuhi oleh orang baik, begitu juga sebaliknya tidak selamanya lingkungan yang dianggap negatif juga dipenuhi oleh orang-orang negatif. Satori yang berpakaian yang identik dengan muslim, menggunakan kopiah dan baju koko, tapi memiliki perangai buruk, dan hal ini kontra dengan sosok Ali, seorang pengamen yang juga sahabat Jafar. “Emang gembel nggak boleh sholat”.




[caption id="attachment_1555" align="aligncenter" width="169"]P_20160416_142902 Bersama Henidar Amroe (Pemeran Ibunda Jafar)[/caption]

     Kondisi ini menggambarkan bahwa nyatanya memang banyak orang-orang yang menggunakan jubah agama hanya untuk melindungi tindak buruknya. Justru merekalah yang mungkin melacurkan ajaran agamanya demi kepuasan pribadi. Demi nafsunya menjadi juara MTQ, Satori rela menyogok Jafar dengan sejumlah uang untuk pengobatan ayahnya yang sedang sakit keras, dengan catatan Jafar tidak ikut lomba MTQ. Lalu bagaimana sikap Jafar? Jelas sudah, ia akan menerima uang tersebut, terlebih memang ayahnya tidak senang akan keikutsertannya dalam lomba.


https://twitter.com/filmindobdg/status/721342382210322432

Sejak kapan kau bisa dibeli?


     Ayahnya justru meminta Jafar mengembalikan untuk mengembalikan uang tersebut terhadap Satori. Lha itu artinya ayahnya mengizinkan Jafar untuk ikut MTQ? Ayah Jafar memiliki prinsip yang kuat atas semua keputusannya, termasuk keputusan ini. Harga diri tetap nomor satu. Terkadang di zaman yang edan ini, banyak orang yang kehilangan harga dirinya, dan rela mengorbankan martabatnya sebagai manusia demi nafsu sesaat. Prinsip harga diri seakan hilang, dan tidak lagi percaya akan adanya kekuatan Tuhan. Merekalah justru yang sedang melacurkan diri?


     Sudah bisa tertebak, Jafar dan Satori bersaing di perlombaan MTQ, dan karena tokoh utama film ini adalah Jafar maka sudah bisa dipastikan Jafar adalah pemenangnya, dan itu betul!! Sayangnya, Jafar mengundurkan diri dari lomba karena ayahnya meninggal. Untuk apa lagi MTQ?


https://twitter.com/filmindobdg/status/721341261739745280

     Keadaan Jafar yang yatim piatu, pada akhirnya membawa ia pada lingkungan pamannya di beda Provinsi serta melupakan pesantren dan MTQ. Ia memilih kerja di tempat pamannya sebagai kurir pengiriman barang. Karena MTQ sudah mendarah daging dalam hidupnya, terlebih diketahui bahwa ini adalah cita-cita almarhumah ibunya, petualangan selalu mendekatkan Jafar pada MTQ.


      Takdir kembali harus mempertemukan Jafar dan Satori di arena MTQ yang kali ini mewakili provinsi masing-masing. Kali ini tidak akan menebak-nebak siapa pemenangnya, karena pasti sudah bisa tertebak. Mari kita telaah masing-masing niatnya. Satori terlihat ketakutan ketika Jafar menjadi pesaingnya, dan ambisinya dia untuk memenangkan MTQ pastinya akan kandas. Jafar dengan yakin meneruskan cita-cita ibundanya untuk menjadi Qari yang bisa menyebarkan pesan positif terhadap masyarakat. Dua niat yang berbeda meski berada dalam satu pertarungan yang sama.




Jadi apakah MTQ sebuah pelacuran ayat suci Al-Quran? Semua tergantung niat!!






Noted: Film ini berdasarkan ide cerita sang sutradara Tarmizi Abka yang skenarionya ditulis oleh Faozan Rizal, lalu dibuatkan novelnya oleh penulis Pipiet Senja berdasarkan skenario yang sudah dibuat.

Share on Google Plus

About Raja BlackWhite

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

23 comments:

  1. Suka sama Henidar Amroe sejak aktingnya di sinetron religi "Para Pencari Tuhan". Moga-moga dese main di film religi lebih banyak lagi.

    ReplyDelete
  2. yoi, beliau juga makin cantik ....

    ReplyDelete
  3. Hwuidih 'melacurkan' banget kalimatnya :D kayaknya film ini harusnya tayang pas bulan puasa deh, ja :D mendongkrak penjualan tiket meureun heueueue. Pipit Senja novelis bagus, saya baca buku-bukunya. Tapi gak tau deh kalo jadi film gimana, belum nonton euy!

    ReplyDelete
  4. betul teh, salah moment tayangnya kurang tepat


    Ini novell yg dibuat dr skenario teh, bukan dari novel yg difilmkan...

    ReplyDelete
  5. mungkin semua bidang bisa jadi tempat "melacur"
    blog juga bisa loh, dikomersialin demi sepiring nasi, haha

    ReplyDelete
  6. Hm...

    makasih bunda Uwien atas kunjungannya ...

    ReplyDelete
  7. Semua tergantung niat dan pilihan masing2

    ReplyDelete
  8. tapi niat saja tidak cukup :D
    caranya juga harus benar
    koruptor niatnya baik loh, ngambil duit rakyat buat makan anak istri, hehe

    ReplyDelete
  9. nggak bisa lah bro, analogi koruptor disandingkan dengan MTQ atau blog karena pada hakikatnya MTQ dan Ngeblog itu hal yang baik, sementara koruptor sudah jelas2 buruk...

    ReplyDelete
  10. maksud saya sih cara cari nafkahnya bang
    cari nafkah kan baik tuh
    nah kalo caranya salah, salah satunya dengan korupsi, jadinya malah jadi buruk

    ReplyDelete
  11. Tulisan ini kan tidak membahas nafkah ...

    ReplyDelete
  12. Wuidihh, mantap ulasannya Mas :))
    Dan itu..pernah ikut MTQ dan juara? wihh keren ^^/

    ReplyDelete
  13. Saya baru tahu ada tuduhan pelecehan atau jual beli ayat pada event MTQ, Bang. Pada bagian mananya panitia memanipulasi pagelaran ini? Apakah memang berbayar mahal untuk menjadi peserta? Apa dipaparkan dalam film ini? Atau semacam tesis saja?

    Gara-gara Om Muammar ZA, saya jadi bebas dari rokok. Saya juga pernah ikut MTQ waktu SD, namun gagal melaju saat seleksi di kabupaten untuk menuju propinsi. Demi menjaga suara agar tetap prima, saya tak mau ikut merokok seperti kawan-kawan lain. Kendati saya akhirnya tidak lagi menekuni bidang qiraah, namun saya gembira tidak menjadi perokok. Faktanya, ada beberapa teman qari yang merorok ternyata suaranya juga tetap bagus hehe. Memang punya saya yang kurang :D

    Dimas Seto selalu bagus menurut saya kalau main. Ibnu Jamil yang biasa jadi protagonis tentu menarik nih kalo muncul sebagai antagonis. Apalagi ada Henidar yang tak diragukan aktingnya. Plus mathias mucus. Tambah penasaran. Kira-kira berapa nilainya dari skala 10, Bang?

    ReplyDelete
  14. Terimakasih ya....

    ReplyDelete
  15. Dalam film ada karakter ayahnya Jafar (Mathias Muchus) yang menganggap lomba MTQ adalah jual beli ayat, pada kenyataannya memang, ada segelintir oknum yang mencari keuntungan dari kegiatan tersebut.

    Hal ini dipertegas oleh tokoh Satori (Ibnu Jamil) yang rela dengan segala cara demi menjuarai lomba MTQ

    ---------
    Alhamdulillah mas berhenti rokok, mantap....

    ---------
    Di sini Dimas Seto cukup apik memainkan tokoh Jafar, meski konflik batinnya kurang diperdalam oleh sang sutradara

    ReplyDelete
  16. Tau nggak? MTQ Nasional berawal dari sebuaj Organisasi yang bernama Jam'iyah Qurra Wa HuFadz :-)

    ReplyDelete
  17. Belum tahu mas Fakhruddin

    ReplyDelete
  18. aku pernah ikut lomba MTQ tingkat kabupaten alhamdulillah dapet juara 2. waktu SMA dulu..hehe

    ReplyDelete
  19. Mantap bang Ali ...

    ReplyDelete
  20. […] Tren yang kedua adalah religi. Hanya satu film religi yang saya tonton di periode ini yakni Kalam-Kalam Langit. Ya meski tidak terlalu sempurna, setidaknya Kalam-kalam Langit tidak terlalu menyebalkan seperti […]

    ReplyDelete