TERPENJARA DAN KEHILANGAN

     Menjalani hidup memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam hidup ada cinta, pengorbanan, emosi, hinaan, tanggung jawab, pujian dan lain sebagainya. Kadang itu semua membuat kita seperti tak ingin hidup, bahkan ingin mati saja. Cinta yang mungkin dibayangkan manis, tapi ternyata bisa berbuah pahit juga. Begitu juga dengan pengorbanan, kadang apa yang sudah kita korbankan kita anggap sebagai sesuatu yang sia-sia, meski selalu ada saja bisikan yang mengatakan semua pasti ada hikmahnya. Tak ketinggalan dengan emosi, yang membuat kita perlu berjuang keras untuk bisa berdamai dengan diri sendiri. Begitu juga dengan hinaan, menyakitkan memang ketika kita dijauhi, dikhianati dan segalanya yang kadang membuat kita sendiri jatuh ke dalam jurang kehinaan akibat perbuatan kita sendiri.

    Tulisan di atas hanya sedikit pengantar saja, kali ini aku ingin berbagi dengan semua blogger mengenai kehidupan. Mungkin tak terlalu berarti untuk diceritakan, namun bagiku semua yang kulalui saat ini seperti terpenjara dalam sepi. 

    Ternyata hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tapi juga tentang orang lain. Mungkin bagi sebagian orang bekerja di bank mungkin mengasyikkan. Asumsinya, banyak uang, gaji tetap, masa depan jelas dan masyarakat pun pada umumnya melihat ini sesuatu yang patut dibanggakan. Namun ternyata tidak bagiku, dengan tak ada maksud menyalahkan apapun dan siapapun, aku hanya merasa semua waktuku dihabiskan untuk hal-hal yang sebetulnya tidak aku cintai. Disini aku sudah bertahan selama 1 tahun 4 bulan. Memang tak kupungkiri banyak hal positif yang aku dapatkan disini, mendapat gaji tetap, merasakan bonus bulanan, merasakan bonus tahunan, menikmati juga indahnya pelatihan dengan dibayar, bahkan untuk tugas dinas pun dibayar. Semuanya serba uang, uang dan uang. Kadang diriku sendiri merasa telah diperbudak oleh hawa nafsu dunia yang terkungkung atas nama uang. namun apakah aku bahagia? Jawabanya IYA dan Tidak. Aku sendiri tidak pernah bisa dengan sebenarnya meraba perasaanku ini seperti apa. Sekarang aku ingin berbagi apa-apa yang telah berubah selama setahun ke belakang semenjak aku kerja di sebuah bank ternama di Indonesia.
  • -Sudah sangat sulit sekali aku bisa meluangkan waktu liburku khususnya Sabtu Minggu untuk kegiatan pribadi ataupun kuliah. Belakangan ini mulai Februari lalu aku niatkan dan tekadkan dengan bulat untuk melanjutkan studi.
  • -Secara kehidupan pribadi, aku sudah terlalu banyak melaksanakan shalat di akhir waktu, ini dikarenakan karena memang kerjaan yang lumayan numpuk, dan juga lingkungan yang memang tidak seperti pesantren. Disini aku tidak menyalahkan apapun, memang manajemen waktu dan ketahanan diriku yang masih harus dipupuk dan dibina.
  • -Passion di dunia musik dan jurnalistik, sudah sangat terkurangi bahkan bisa dikatakan tak ada lagi. Praktis aku lalui hari tak tahu untuk apa, dan tak tahu apa sebenarnya yang ingin aku raih dan dapatkan.
  • -Yang ini mungkin agak unik, berat badanku naik hampir 15 kilo dalam setahun, saat tes kesehatan setahun lalu sebagai syarat kualifikasi berat badanku hanya 56 kg, dan sekarang mencapai 70 kg dengan tinggi masih 169 cm. Kadang aku berpikir, apakah benar daging yang terus tumbuh dalam tubuhku ini semuanya halal. Kalau memang iya, kenapa banyak yang berubah dari perilaku aku sendiri. Khawatirnya memang apa yang masuk ke tubuhku tidak sepenuhnya diridhai Allah SWT, bukankah itu semua berpengaruh terhadap kepribadian kita.
Lantas, mengapa aku bisa bertahan sejauh ini? 1 tahun 4 bulan ini waktu terlamaku ketika berpijak di bumi yang tidak semestinya. Kadang aku pun iri melihat rekan-rekanku yang memiliki pandangan hampir sama, memutuskan untuk resign dan take passionnya sendiri. Aku pun sadar jika aku tak berani ambil risiko, maka aku takkan kemana-mana dan selamanya seperti ini. Namun ada kondisi yang harus aku sadari lebih dalam, mengalahkan ego dan ini yang memang berat. Disinilah aku mulai mengerti arti hidup dalam sebuah pengorbanan. Ternyata banyak hal yang seharusnya kusyukuri atas apapun yang terjadi. Banyak yang merasakan bahagia atas apa yang kulalui sejauh ini. Namun apakah memang seperti ini hidup. Kita berkorban perasaan hanya untuk perasaan orang lain. Pasti itu tidak enak. Ini ujian yang paling berat, aku harus bisa mengalahkan egoku dan berdamai dengan diriku sendiri. Aku tetap yakin, solusinya aku harus lebih banyak bergaul dengan orang orang yang baik dan bisa membawaku ke arah yang lebih baik serta lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, DIAlah dzat yang ternyata tidak pernah lelah menemaniku meski ternyata kadang aku "cuek" terhadapNya. Kini aku hanya bisa berserah atas apapun yang menjadi takdirku, biar waktu yang akan menuntunku terhadap jalanku meski kadang aku merasa terpenjara dan kehilangan.  
Share on Google Plus

About Raja BlackWhite

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

1 comments:

  1. ya ampun ka... segitu beratnya masalah kaka.. percaya dan yakin Allah pasti bakal nunjukin jalan terbaik kpd umatNYA.. tetep semangat yah..

    ReplyDelete